Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-popup-window-di-blog.html#ixzz2QgZ7w0A2

Selamat Datang Di Blog Rams Aroza

Selamat Datang Di Blog Rams Aroza

Kamis, 25 April 2013

Makalah Tentang Hasil Observasi Kesejarahan Situs Cagar Budaya Karangkamulyan


Hasil Observasi Kesejarahan Situs Cagar Budaya Karangkamulyan


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sejarah kerajaan lokal jawa barat, mendengar hal ini kita akan terlintas dalam benak kita tentang sejarah kerajaan-kerajaan yang namanya di abadikan sebagai nama-nama jalan di Jawa barat khususnya di Bandung. Sebut saja Pajajaran, Tarumanagara, dan Sunda yang tidak asing di telinga kita. Namun kerajaan di Sunda tidak sebatas itu. Ada kerajaan Galuh, Sunda Kawali dan panjalu yang munkin asing di telinga kita.

Kerajaan Galuh, kerajaan ini termasuk salah satu kerajaan tertua di tanah pasundan tepatnya telah ada sebelum adanya kerajaaan Majapahit dan Pajajaran. Peninggalan kerajaan ini tersimpan dalam cagar budaya yaitu objek wisata budaya Karangkamulyan atau Ciung Wanara.

Karangkamulyan atau ciung wanara adalah situs cagar budaya yang isinya berupa peninggalan kerajaan galuh yang di dalamnya kita dapat mengkaji karakteristik kerajaan galuh. Tempat ini berada di Ciamis tepatnya di kecamatan Cijeunjing yang menyajikan panorama yang indah. Tempat ini selain indah dipandang dan dikunjungi juga kaya dengan wawasan kesejarahan di tatar sunda khususnya wawasan tentang kerajaan galuh.

Makalah ini akan mengupas tentang situs cagar budaya karangkamulyan apa saja yang menarik perhatian kami akan tertuang dan tersusun di dalamnya.

1.2 Rumusan Penulisan

1. Daya tarik apa yang di tawarkan oleh Situs Cagar Budaya Karangkamulyan?

2. Peninggalan sejarah apa saja yang ada di Situs Cagar Budaya Karangkamulyan dan pengaruh dari aspek sosial, ekonomi dan kepercayaan?

3. Sumber-sumber sejarah apakah yang ditemukan di sana, dan termasuk dalam jenis apakah sumber sejarah itu ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Mengetahui daya tarik apa yang di tawarkan oleh Situs Cagar Budaya Karangkamulyan.

2. Mengetahui peninggalan sejarah apa saja yang ada di Situs Cagar Budaya Karangkamulyan dan pengaruh dari aspek sosial-budaya, ekonomi dan kepercayaan?

3. Mengetahui sumber-sumber sejarah apakah yang ditemukan di sana, dan termasuk dalam jenis apakah sumber sejarah itu.

1.5 Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Penulisan

1.4 Metode Penulisan

1.5 Sistematika Penulisan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III PEMBAHASAN

3.1. Daya tarik yang di tawarkan oleh Situs Cagar Budaya Karangkamulyan.

3.2. Peninggalan sejarah yang ada di Situs Cagar Budaya Karangkamulyan dan pengaruh dari aspek sosial-budaya, ekonomi dan kepercayaan.

3.3. Sumber-sumber sejarah dan jenis sumber sejarah yang ditemukan

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan      

4.2. Saran

BAB II

LANDASAN LITERATUR

1. Menurut Notosusanto (1979 : 309) membagi kegunaan sejarah menjadi empat yaitu, fungsi edukatif (pendidikan), fungsi inspiratif (inspirasi), fungsi istruktif (pembelajaran keterampilan atau kejuruan) dan rekreatif (rekreasi).

2.     Soekmono (1973 : 16) membagi Sejarah kebudayaan Indonesia menjadi 4 masa, yakni :

1) Zaman prasejarah, sejak dari permulaan adanya manusia dan kebudayaan sampai kira-kira abad ke-5 Masehi.

2) Zaman Purba, Sejak dari datangnya pengaruh India pada abad pertama tarikh Masehi sampai lenyapnya kerajaan majapahit sekitar tahun 1500 M.

3) Zaman Madya, sejak datangnya agama dan pengaruh Islam menjelang akhir zaman majapahit sampai akhir abad ke-19.

4) Zaman Baru (modern), sejak masuknya anasir-anasir barat dan teknik-teknik modern padakira-kira tahon 1900 sampai dewasa sekarang.

3.     Jan Romein (Ismaun, 2005 : 42-43) membagi sejarah kedalam dua kategori yaitu sumber langsung (dibagi lagi menjadi peninggalan sengaja dan peninggalan tidak sengaja) dan sumber tidak langsung (berupa cerita atau tradisi lisan).

BAB III

PEMBAHASAN



3.1.Daya tarik yang di tawarkan oleh Situs Cagar Budaya Karangkamulyan.

Karangkamulyan atau Ciung Wanara adalah cagar budaya yang terletak di Cijeunjing Ciamis. Di lokasi terdapat Perpustakaan sejarah yang dikelola oleh prodi sejarah UNIGAL (Universitas Galuh) dan pegawai Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang Departemen Budaya dan Pariwisata yang mengelola peninggalan-peninggalan purbakala di Jabar, Banten, DKI Jakarta dan Lampung yang isinya selain buku-buku tentang sejarah local jawa barat, juga terdapat benda-benda peninggalan purbakala yang ditemukan di sekitar Cagar budaya di antaranya dolmen, menhir, batu asahan, arca yang berasal dari zaman neolitikum dan megalitikum. Juga peninggalan lain seperti ditemukannya keramik peninggalan dinasti Ming pada abad ke IX, dll.

Selain itu pula yang tak kalah menarik yaitu adanya Gong perdamaian Dunia yang di gong tersebut terdapat gambar-gambar bendera dan lsimbol lambang keagamaan yang ada di yang ada di seluruh dunia yang isinya mengajak seluruh dunia untuk berdamai. Gong ini menurut narasumber Bpk. Kuswandi dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang selesai dibangun pada awal tahun 2009.

Bila kita telusuri lebih jauh kawasan yang luasnya kurang lebih 25 Ha ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu. Batu-batu ini letaknya tidaklah berdekatan tetapi menyebar dengan bentuknya yang berbeda-beda, berada dalam sebuah tempat berupa struktur bangunan terbuat dari tumpukan batu yang bentuknya hampir sama. Struktur bangunan ini memiliki sebuah pintu sehingga menyerupai sebuah kamar.

Batu-batu yang ada di dalam struktur bangunan ini memiliki nama dan kisah, begitu pula beberapa lokasi lain yang terdapat di dalamnya yang berada di luar struktur batu. Masing-masing nama tersebut merupakan pemberian dari masyarakat yang dihubungkan dengan kisah atau cerita tentang kerajaan Galuh. Adapun objek yang paling utama adalah peninggalan sejarah dari kerajaan Galuh sendiri yang terbagi kedalam 9 situs yaitu : (1) Pangcalikan; (2) Sanghiyang Bedil; (3) Panyabungan Hayam; (4) Lambang peribadatan; (5) Cikahuripan; (6) Panyandaan; (7) Pamangkonan; (8)Makam Adi Pati Panaekan dan (9) Patimuan.

Dari dari objek berupa perpustakaan, gong perdamaian dunia dan situs-situs yang berada dalam lokasi ini selain wawasan sejarah kita akan bertambah kita pun dimanjakan dengan pemandangan alam yang indah khas pasundan yang memanjakan mata kita. Sesekali kita dapat melihat kera berwarna abu liar namun jinak berkeliaran bebas mengintip kita dari balik dahan-dahan pohon yang rindang seolah-olah menyapa kita tuk ucapkan selamat datang. Hal ini menjadi nilai lebih dari objek wisata budaya ini.

Dari objek-objek yang terdapat dalam situs ini. Situs ini memiliki semua fungsi-fungsi sejarah yang dikemukakan Notosusanto (1979 : 309) yakni, fungsi edukatif (pendidikan) di mana kita dapat wawasan kesejarahan, fungsi inspiratif (inspirasi) yang kita dapatkan dari peristiwa sejarah yang ada di sini, fungsi istruktif (pembelajaran keterampilan atau kejuruan) untuk mengamati secara langsung ciri khas dan corak kebudayaan yang berpengaruh pada masa lalu dan fungsi rekreatif (rekreasi) di mana kita mendapat kepuasan atau hiburan saat kita mengunjungi tempat ini.

3.2.Peninggalan sejarah yang ada di Situs Cagar Budaya Karangkamulyan dan pengaruh dari aspek social-budaya, ekonomi dan kepercayaan.

Peninggalan-peninggalan sejarah di sini berjumlah sembilan buah. Seperti yang telah di sebutkan di atas yaitu : (1) Pangcalikan; (2) Sanghiyang Bedil; (3) Panyabungan Hayam; (4) Lambang peribadatan; (5) Cikahuripan; (6) Panyandaan; (7) Pamangkonan; (8)Makam Adi Pati Panaekan (9) Patimuan dan (10) keramik-keramik.

1. Pangcalikan

Pangcalikan adalah situs pertama yang akan kita kunjungi. Pangcalikan merupakan sebuah batu bertingkat-tingkat berwarna putih serta berbentuk segi empat, termasuk ke dalam golongan / jenis yoni ( tempat pemujaan ) yang letaknya terbalik, digunakan untuk altar. Di bawah Yoni terdapat beberapa buah batu kecil yang seolah-olah sebagai penyangga, sehingga memberi kesan seperti sebuah dolmen ( altar batu ). Letaknya berada dalam sebuah struktur tembok yang lebarnya 17,5 x 5 meter..

Dilihat dari namanya yaitu pangcalikan yang mempunyai arti tempat duduk maka dapat disimpulkan bahwa pangcalikan adalah sebuah singgasana raja, yang tidak lain dan tidak bukan adalah singgasana raja galuh yang secara otomatis tempat ini dapat disebut sebagai pusat pemerintahan kerajaan galuh.

2. Sahiyang Bedil

Tempat yang disebut Sanghyang Bedil merupakan suatu ruangan yang dikelilingi tembok berukuran 6.20 x 6 meter. Tinggi tembok kurang lebih 80 cm. Pintu menghadap ke arah utara, di depan pintu masuk terdapat struktur batu yang berfungsi sebagai sekat (schutsel). Di dalam ruangan ini terdapat dua buah menhir yang terletak di atas tanah, masing-masing berukuran 60 x 40 cm dan 20 x 8 cm. Bentuknya memperlihatkan tradisi megalitik. Menurut masyarakat sekitar, Sanghyang Bedil dapat dijadikan pertanda datangnya suatu kejadian, terutama apabila di tempat itu berbunyi suatu letusan, namun sekarang pertanda itu sudah tidak ada lagi. tempat ini digunakan sebagai gudang senjata para prajurit kerajaan galuh.

3. Panyabungan Hayam

Tempat ini terletak di sebelah selatan dari lokasi yang disebut Sanghyang Bedil, kira-kira 5 meter jaraknya dari pintu masuk. Situs ini berupa ruang terbuka yang letaknya lebih rendah. Masyarakat menganggap tempat ini merupakan tempat penyabungan antara ayam Ciung Wanara dan ayam raja (Bondan Saragih). Di samping itu merupakan tempat khusus untuk memlih raja yang dilakukan dengan cara demokrasi.

Pada gambar di atas terlihat sebuah pohon bungur yang berada di tengah lapang (panyabungan hayam). Pada pohon itu terdapat sebuah tonjolan seperti sebuah dahan yang kecil. Dari kepercayaan masyarakat asli di sana, barang siapa yang dapat memegang tonjolan itu dari pinggir lapang dengan mata tertutup maka keinginannya akan terkabul. Pada tempat ini tidak ditemukan peninggalan arkeologis.

4. Lambang Peribadatan

Batu yang disebut sebagai lambang peribadatan merupakan sebagian dari kemuncak, tetapi ada juga yang menyebutnya sebagai fragmen candi, masyarakat menyebutnya sebagai stupa (Kepala Candi). Bentuknya indah karena dihiasi oleh pahatan-pahatan sederhana yang merupakan peninggalan Hindu. Letak batu ini berada di dalam struktur tembok yang berukuran 3 x 3 m, tinggi 60 cm. Batu kemuncak ini ditemukan 50 m ke arah timur dari lokasi sekarang. Di tempat ini terdapat dua unsur budaya yang berlainan yaitu adanya kemuncak dan struktur tembok. Struktur tembok yang tersusun rapi menunjukkan lapisan budaya megalitik, sedangkan kemuncak merupakan peninggalan agama Hindu.

Menurut narasumber, Pada saat ditemukan di atas kemuncak ada sebuah mahkota yang terbuat dari emas. Namun untukkeamanan dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab benda ini di simpan di Dinas Purbakala Serang Banten.

5. Cikahuripan

Di lokasi ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi hanya merupakan sebuah sumur yang letaknya dekat dengan pertemuan antara dua sungai, yaitu sungai Citanduy dan sungai Cimuntur. Sumur ini disebut Cikahuripan yang berisi air kehidupan, air merupakan lambang kehidupan, itu sebabnya disebut sebagai Cikahuripan. Sumur ini merupakan sumur abadi karena airnya tidak pernah kering sepanjang tahun.

Menurut narasumber, saat malam jum’at terutama saat jum’at kliwon bulan purnama banyak orang yang datang di tengah malam untuk mendapatkan air ini. Konon mereka percaya bahwa dengan minum atau mandi dengan air ini maka penyakit yang di derita akan sembuh, awet muda dan segala keinginan akan terkabul.

6. Panyandaan

Terdiri atas sebuah menhir dan dolmen, letaknya dikelilingi oleh batu bersusun yang merupakan struktur tembok. Menhir berukuran tinggi 120 cm, lebar 70 cm, sedangkan dolmen berukuran 120 x 32 cm. Menurut cerita, tempat ini merupakan tempat melahirkan Ciung Wanara. Di tempat itulah Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum yang kemudian bayi itu dibuang dan dihanyutkan ke sungai Citanduy. Setelah melahirkan Dewi Naganingrum bersandar di tempat itu selama empat puluh hari dengan maksud untuk memulihkan kesehatannya setelah melahirkan.

7. Pamangkonan

Terdiri dari sebuah benda seperti stupa yang hamper mirip di temukan di Lambang peribadatan, stupa ini dilihat dari bentuknya bercorak hindu pada zaman megalitik. Stupa ini berbentuk gada (senjata seperti palu yang besar) yang fungsinya sebagai alat penyeleksian calon prajurit. Seperti nama tempat ini yaitu pamangkonan yang artinya mengangkat atau menggendong caranya penyeleksian prajurit pada waktu itu yaitu dengan cara mengangkat/menggendong batu tersebut, sebab hanya orang yang mempunyai kesaktian yang dapat mengangkat batu itu yang katanya sangat berat apabila di angkat oleh orang awam.

Batu itu konon menurut kepercayaan masyarakat lokal dulu sering berpindah-pindah tempat. Maka batu itu disebut pula Sahiyang indit-inditan yang artinya batu yang sering berpindah-pindah.

Menurut narasumber, batu yang ada disana adalah replika batunya saja, sebab batu yang asli berada di Dinas Purbakala Serang Banten. Hal ini dilakukan untuk keamanan benda purbakala tersebut.

8. Makam Adipati Panaekan

Di lokasi makam Dipati Panaekan ini merupakan batu yang berbentuk lingkaran bersusun tiga, yakni merupakan susunan batu kali. Dipati Panaekan adalah raja Galuh Gara Tengah yang berpusat di Cineam dan mendapat gelar Adipati dari Sultan Agung Raja Mataram yang dibunuh oleh adik iparnya karena perebutan kekuasaan. Setelah dibunuh jenazahnya di buang ke sungai cimuntur. Setelah ditemukan jenazahnya lalu di makamkan di dekat sungai cimuntur.

Dilihat dari bentuk makamnya yang ditemukan berbatu nisan dan menghadap kiblat (ka’bah) dapat disimpulkan bahwa makam ini bercorak islam. Dan dari lingkaran yang bertingkat tiga yang membentuk punden berundak dapat terlihat budaya megalitik masih kental pada saat itu.

9. Patimuan

Patimuan adalah delta sungai yaitu tempat bertemunya sungai Citanduy yang dangkal, berbatu dan bersih dengan sungai cimuntur yang dalam, tidak berbatu dan lebih keruh dibandingkan sungai Citanduy. Di tempat ini tidak ditemukan peninggalan-peninggalan bersifat arkeologis.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat secara turun temurun, disinilah aki (kakek) balangantrang menemukan bayi ciung wanara yang dihanyutka ke sungai oleh ibunya Permaisuri Dewi naganingrum untuk menyelamatkannya dari Raja Bondan Saragih yang ingin membunuhnya untuk mendapatkan kekuasaan atas galuh pada waktu itu.

10. Keramik-keramik

Selain dari peninggalan-peninggalan berupa situs purbakala dan cagar alam. Dari pemnggalian-pengalian yang dilakukan ditemukan pula serpihan keramik-keramik peninggalan Cina hingga piring-piring belanda dari abad ke-19. Yang tertua adalah keramik cina peninggalan dinasti Tang abad ke-9. keramik-keramik ini dapat kita lihat di perpustakaan sejarah yang terdapat di tempat ini.

Menurut Soekmono (1973 : 16) Sejarah kebudayaan Indonesia terbagi menjadi 4 masa, yakni :

1. Zaman prasejarah, sejak dari permulaan adanya manusia dan kebudayaan sampai kira-kira abad ke-5 Masehi.

2. Zaman Purba, Sejak dari datangnya pengaruh India pada abad pertama tarikh Masehi sampai lenyapnya kerajaan majapahit sekitar tahun 1500 M.

3. Zaman Madya, sejak datangnya agama dan pengaruh Islam menjelang akhir zaman majapahit sampai akhir abad ke-19.

4. Zaman Baru (modern), sejak masuknya anasir-anasir barat dan teknik-teknik modern padakira-kira tahon 1900 sampai dewasa sekarang.

Dari peninggalan sejarah yang ditemukan di tempat ini dari corak-corak budaya yang terdapat di dalamnya jika kita menggunakan pendapat Soekmono maka dapat kita bagi kerajaan galuh menurut Sosial-budaya dan Kepercayaannya dalam tiga zaman, yakni :

1. Kerajaan Galuh zaman prasejarah, yakni antara sejak dari permulaan adanya manusia dan kebudayaan sampai kira-kira abad ke-5 Masehi. Budaya bersifat megalitik dan kepercayaan animisme dan dinamisme. Bukti Peninggalan, yakni : yoni di pangcalikan; menhir di sahiyang bedil dan dolmen dan menhir di panyandaan. Selain itu juga ada kepercayaan terhadap pohon bungur dan mata air cikahuripan yang dipercaya dapat mengabulkan keinginan yang masih dipercaya masyarakat hingga kini.

2. Kerajaan Galuh zaman Purba/Hindu, Kehidupan sosial-budaya bersifat megalitik walau tidak ditemukan prasasti namun dilihat dari peninggalannya dipengaruhi kebudayaan India yakni kebudayaan hindu dilihat dari batu yang dibentuk seperti stupa. Peninggalan-peninggalan yang ditemukan, yakni : lambang peribadatan dan pamangkonan.

3. Kerajaan Galuh Zaman Madya/Islam, sejak datangnya agama dan pengaruh Islam. Peninggalanya yaitu makam Adipati Panaekan yang bersifat megalitik dan bercorak islam dari ditemukannya batu nisan dan posisi makam yang menghadap kiblat serta dari cerita turun-temurun yang menyebutkan hubungan Adipati Panaekan dengan Kerajaan Mataram Islam.

Selain itu dilihat dari serpihan keramik-keramik cina yang ditemukan yang berangka tahun 9-15 M dapat disimpulkan telah terjadi perdagangan internasional yang dilakukan kerajaan ini. Serta dari keramik belanda yang ditemukan yang berangka tahun 19 M berimplikasi wilayah ini pernah diduduki oleh belanda.

3.3.Sumber-sumber sejarah dan jenis sumber sejarah yang ditemukan

Jan Romein (Ismaun, 2005 : 42-43) membagi sejarah kedalam dua kategori yaitu sumber langsung (dibagi lagi menjadi peninggalan sengaja dan peninggalan tidak sengaja) dan sumber tidak langsung (berupa cerita atau tradisi lisan).

Yang termasuk bukti langsung yakni pangcalikan, sahiyang bedil, makam adipati panaekan dan panyandaan yang kesemuanya adalah buatan manusia, walaupun tidak terdapat bukti tertulis di situs ini.

Yang termasuk peninggalan tidak langsung adalah oral histori berupa cerita lisan yang disampaikan secara turun temurun oleh warga sekitar karangkamulyaan yang terjaga dari masa ke masa. Namun bukti ini tidak otentik karena tersamapaikan dari mulut ke mulut dalam waktu yang lama dan multi interpretasi di dalamnya.

BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Karangkamulyan merupakan salah satu cagar budaya yang menarik karena didalamnya terdapat cagar alam yang indah dan cagar budaya yang dapat menambah wawasan kita tentang kerajaan sunda di Jawa barat khususnya yang berada di ciamis.

Dari aspek sosial budaya terlihat kental sekali dengan pengaruh local genius hindu dan islam, karena berada dalam masa peralihan antara jaman hindu budha dengan masa masuknya pengaruh islam. Di lihat dari salah satu contoh adalah makam adipati panaekan yang berbentuk punden berundak yang merupakan local genius dan pengaruh islam terlihat dari bentuk makam dan posisi makam yang menghadap kiblat.

Perekonomian telah mengenal perdagangan laut internasional dengan ditemukannya keramik cina dan uang kuno di sekitar situs cagar budaya.

Situs ini memiliki dua sumber sejarah yakni sumber langsung berupa peninggalan keraton dan makam yang dibuat oleh manusia walau tidak terdapat bukti tulisnya. Dan bukti tak langsung berupa cerita rakyat yang sangat terkenal di wilayah tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar